Selamat datang di #19putra's.blogspot.com ini adalah blog anak sma yang bercita - cita sebagai penulis dan motivator

Minggu, 04 Desember 2011

10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur


Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"


Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.

Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.


Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan:"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.

Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"


Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!
Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.


Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah." 


Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu!

Minggu, 27 November 2011

Malaikatku :)

Suatu ketika bayi siap dilahirkan ke dunia . . .
Menjelang di turunkan, Dia ( BAYI ) bertanya kepada TUHAN, 
" Para MALAIKAT disini mengatakan, bahwa BESOK AKU AKAN Engkau Kirim ke dunia "
" Tapi, bagaimana cara saya hidup disana? Saya begitu kecil dan lemah " Kata si Bayi.

Tuhan menjawab
" Aku telah memilihkan SATU MALAIKAT untukmu. dia akan menjaga dan mengasihimu "
" Tapi di surga, yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Itu cukup bagi saya untuk bahagia " demikian kata si Bayi.

Tuhan pun menjawab
" Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu AKAN merasakan KEHANGATAN CINTANYA, DAN MENJADI LEBIH BAHAGIA "
Si BAYI pun bertanya kembali 
" Dan apa yang dapat SAYA lakukan saat SAYA INGIN BERBICARA PADAMU ? "
Tuhan kembali menjawab pertanyaan SI BAYI .
" Malaikatmu akan MENGAJARKAN bagaimana cara KAMU BERDOA "
Si Bayi pun masih belum puas, dan DIA ( BAYI ) kembali bertanya lagi
" Saya mendengar, bahwa DI BUMI BANYAK ORANG JAHAT. Lalu siapa yang akan MELINDUNGI SAYA? "
Dengan penuh kesabaran, Tuhan pun menjawab
" Malaikatmu akan MELINDUNGIMU DENGAN TARUHAN NYAWANYA SEKALI PUN "
Si Bayi pun tetap belum puas dan melanjutkan tanyanya kembali 
" Tapi saya AKAN BERSEDIH, JIKA TIDAK MELIHAT DENGAN ENGKAU LAGI "
Tuhan pun menjawab
" Malaikatmu akan MENCERITAKANmu TENTANG AKU. Dan akan MENGAJARKAN BAGAIMANA AGAR KAMU DAPAT KEMBALI PADAKU. Walaupun sesungguhnya, AKU BERADA DISISIMU SELALU "
SUATU SAAT, SURGA SANGATLAH TENANG. SEHINGGA SUARA DARI BUMI DAPAT TERDENGAR DAN SANG ANAK DENGAN SUARA LIRIH BERTANYA.
" TUHAN ... Jika Saya harus pergi sekarang, dapatkah Engkau memberitahu saya, SIAPAKAH MALAIKTA YANG AKAN SELALU MENJAGA, MENYAYANGI SAYA NANTI ? "
tanya si Bayi.
Tuhan menjawab
" KAMU DAPAT MEMANGGIL MALAIKATMU DENGAN SEBUTAN - IBU - " 
Maka, KENANGLAH IBUMU, YANG SELALU MENYAYANGIMU DENGAN TULUS, PENUH KASIH, PENUH PERASAAN, PENUH CINTA. IBUMU SELALU MENYAYANGIMU DIMANA PUN KAMU BERADA, DAN BAGAIMANA PUN KAMU. 
INGATKAH, SAAT TANGAN DAN JEMARINYA MENYENTUH LEMBUT KEPALAMU? MENGUSAP AIR MATA YANG TURUN DARI PIPIMU? DAN INGATKAH KAMU, SAAT IBUMU MENETESKAN AIR MATANYA HANYA KARENA SEDIH MELIHATMU TERBARING SAKIT?
BEGITU BESARNYA PENGORBANAN SEORANG IBU PADA ANAKNYA. MESKIPUN DIA HARUS BERTARUH NYAWA, DIA RELA ! DIA IKHLAS !! ASALKAN DIA BISA MELIHAT BUAH HATINYA TERSENYUM BAHAGIA UNTUK MENATAP DUNIA YANG INDAH INI.
IBU RELA MEMBERIKAN SEGALANYA UNTUK KITA. TAPI APA BALASAN KITA?
KITA HANYA BISA TERTAWA DI ATAS ITU SEMUA. KITA BIARKAN IBU KITA KESUSAHAN, PADAHAL, APA YANG DILAKUKAN IBU KITA PADA AKHIRNYA JUGA AKAN BERHARGA UNTUK KITA.

BEGITU SAYANG, DAN CINTANYA IBU KITA PADA KITA. IBU SELALU INGIN MEMBERIKAN YANG TERBAIK UNTUK KITA ( ANAKNYA ).
IBU TAK INGIN ANAKNYA BERSEDIH. IBU INGIN MELIHAT KITA TERSENYUM UNTUKNYA !!
SESEKALI, MARI KITA PELUK IBU KITA, DAN BERKATA " AKU MENCINTAIMU IBUKU, TERIMAKASIH ATAS SEGALANYA YANG KAU BERIKAN UNTUKKU " 

SEBELUM TERLAMBAT NANTINYA ! :)

Tinggal Sandiwara

           Sinar mentari mulai redup, Tepat di seberang perempatan itu tertata sebuah taman kecil dengan lampu mulai menyala disetiap jalan setapak. “Ini adalah tempat terakhir kesempurnaan bahagiaku yang telah lama lengser hingga menutup perasaan menyayangi orang lain” pikir seorang gadis remaja, Misca. Sekolah SMA N Garuda adalah sekolah terbersih di daerah Jombang, dan tepat di seberang jalan terdapat sebuah taman berukuran mini. Jam menunjukkan angka 15.15 WIB sekolah tersebut mulai ramai dengan para remaja berpakaian abu-abu putih, namun nampaknya matahari belum berpihak, matahari bersembunyi dibalik awan gelap dengan air yang mulai bercucur deras hingga sekolah tampak sepi dari gerombolan siswa di depan sekolah, mereka lebih memilih menetap di ruang kelas menunggu matahari keluar dari persembunyiannya terkecuali Misca, selangkah demi selangkah kaki meninggalkan gerbang sekolah dan tanpa payung di tangan atau pun mantel melekat di badan. Memang dia adalah seorang gadis kesepian, orang tuanya sudah satu tahun berpulang menghadap Yang Kuasa dan dia hanya hidup dengan seorang Tante yang berwatak keras. Seperti biasanya, jika ia mempunyai masalah sering dia duduk di bangku taman dengan hujan setetes demi setetes jatuh menerpa dengan lamunan yang selalu saja membuatnya tak bisa berkata.
“Dimana kah bahagiaku berada ?? agar aku dapat mengambilnya dan menancapkannya segera dihidupku” omong Misca
“Kau hanya memikirkan duniamu saja, namun kau tak pernah memikirkan akhiratmu. Kau tak mau dilukai, kau mengeluh pada Tuhanmu, tapi kau tak pernah merasa kau seringkali melukai Tuhanmu, namun Tuhanmu tak pernah mengeluh padamu. Bagaimana kau tega meminta jika kau tak pernah menyayangiNya” celetuk seorang anak kecil dengan membawa gitar dan kaleng kecil yang berisikan beberapa uang receh.
Misca yang sebelumnya menutup mata dan tertunduk seketika itu mengangkat kepala dan menatap anak kecil yang berbicara padanya namun anak itu tampaknya sudah pergi jauh meninggalkan Misca yang duduk di bangku taman.
                Bulan mulai mengembangkan senyumnya memberikan sinar terang dengan bintang yang bertaburan, namun kejadian sore lalu masih melekat erat diingatan Misca. Bayangan bocah pembawa gitar mungkil itu membuatnya lebih menjadi pendiam namun kini hatinya mulai sedikit luluh. ”Cit..cuit...cit...cuit...” suara Beo kesayangan tante membangunkan Misca, matahari mulai meninggi memaksa Misca untuk segera bersiap sekolah.
                “Kring...” suara bel masuk sekolah baru terdengar menegaskan kedisiplinan waktu untuk memulai pelajaran, hari ini adalah waktunya P.Ikhsan mengajar bahasa Jepang. Selalu saja saat pelajaran bahasa Jepang Miscalah yang seringkali menjadi asisten P.Ikhsan, dibuktikan dengan sekarang Misca harus memphotocopykan tugas dari P.Ikhsan untuk teman-teman sekelas.
Misca berjalan keluar kelas dengan membawa beberapa lembar kertas tugas,  dan saat sampai di tempat photocopy sembari dia menunggu semua tugas telah terphotocopy, Misca memainkan Hpnya dengan sebuah game yang asyik menjadi temannya menunggu. Tak sengaja saat dia mulai bosan dan melamun melihat gerbang sekolah terlihatlah seorang siswa tetangga sekolah, “Kak Adit” sebutnya pelan, seketika dia melihat ke depan dengan perasaan tak karuan, memang sudah 5 bulan ini Misca sedang menyimpan rasa untuk Adit, Dia bertemu dan kenal dengan Adit saat mengikuti LDK OSIS se.Jombang. Sebuah kejadian yang tak disangka terjadi, tiba-tiba kak Adit menoleh padanya, melihatnya kemudian tersenyum lalu kak Adit menunjukkan Hpnya seolah memberi simbol untuk meminta nomor HP dan seketika Misca mencari bulpoin disakunya dan dengan cepat menuliskan nomornya disebuah kertas dan menunjukkannya ke kak Adit, setelah mencatat nomor Misca kak Adit memberikan jempol untuk Misca.
                Dua minggu terjalani, Misca memang mulai dekat dengan kak Adit namun sepertinya Misca mulai berfikir bahwa Adit hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat tak lebih, sudah 5 bulan Misca menyimpan rasa namun tak pernah ia ungkapkan pada seorang pun. Minggu ini adalah hari yang membuatnya dilema..
“Apa maksud dari ini kak ? tiba-tiba kakak datang dihidupku, entah ada sesuatu yang menarikku untuk tetap ingin dekat denganmu, tapi seringkali aku mendengar berita bahwa kau memang dekat dengan banyak gadis, kau juga memberikan perhatian pada mereka hingga mereka luluh hati padamu kak, kau tak pernah rasakan apa yang aku rasa kak. Kau pernah bilang kalau kau menganggap mereka layaknya adik dan perhatianmu itu hanya untuk menyenangkan hati mereka, namun sebenarnya bagaimana ke aku ? apa sama halnya padaku ?” pikir Misca dalam hati.
Ketika Misca masuk sekolah, disela jam istirahat dia ingin cerita pada sahabatnya sekedar ingin meringankan beban pikiran yang telah lama menjadi tanda tanya. Namun semua tak seperti yang diharapkan, Sahabat karibnya pun sedang merasakan patah hati dan sebelum Misca cerita tentang masalahnya, sahabatnya telah menceritakan apa yang kini sedang terjadi dan dirasakannya, Misca mendengarkan keluhan sahabatnya dan jika ia dapat memberi solusi atau membantu ia sangatlah rela untuk membantu sahabatnya itu. Memang kini banyak teman-teman yang curhat pada Misca, dan jika Misca bisa menolong maka ia akan menolong, namun berkali-kali ia dikecewakan teman-teman yang telah dianggap layaknya saudara. Misca diam saja dan tetap baik seolah hatinya terbuat dari baja, dan berkali-kali cerita kemudian dikecewakan lagi. Lalu kepada siapa lagi Misca mengadu selain pada Tuhannya, ia jarang cerita karena percuma saja, hanya menambah duri dalam hati akibat sikap apatis dari sahabat ataupun kawan layaknya saudara.
                Sudah sebulan Misca dekat dengan kak Adit, Dan sudah banyak hinaan yang terlontar untuk Misca. Kak Adit tak pernah merasakan apa yang Misca usahakan agar kak Adit tak malu dengannya hingga rela tidak makan agar Misca tidak gemuk hingga 2 hari akhirnya berat Misca berkurang 3 kg. Berusaha agar tersenyum selalu walau sering perkataan kak Adit menyakiti hati Misca namun itu selalu ditahan Misca. Misca akanlah rela jika kak Adit akhirnya bersatu dengan orang lain bukan dirinya, karna berkali-kali Misca sudah merasakan apa arti sebuah sakit dalam hati, Misca akan bahagia jika kak Adit mau jujur padanya karena kebahagiaan tidak selalu dapat dimiliki, kebahagiaan hanya untuk dirasakan. Sudah lama pula Misca selalu bersandiwara tersenyum pada sahabat atau pun kawan layaknya saudara, Misca selalu saja berpura-pura tetap tegar tanpa rasa sakit menjalar dalam hati, mereka sering curhat dan menangis namun jarang untuk mereka mau mendengar curhatan Misca. Ketika bahagia mereka terkadang bahagia dengan apa yang dirasanya tanpa peduli apa yang dirasa Misca saat itu namun Misca selalu tetap tegar. KEADAANLAH YANG MEMAKSANYA UNTUK TETAP TEGAR.
                Empat bulan dia telah dekat dengan kak Adit, sahabat (Ara), dan kawan-kawan layaknya saudara. Misca telah merasakan pahit manisnya sekolah di SMA N Garuda. Saat ini tiba-tiba dia rindu pada kedua orang tuanya yang sudah menghadap Tuhan SWT, beberapa hari ini sms kak Adit membuatnya bingung, entah itu hanya sebuah lelucon untuk menghibur hati Misca atau kah memang kak Adit merasa ada rasa seperti yang dirasa Misca. Saat istirahat sekolah hari ini, Misca kembali mencurahkan apa yang dia rasa pada sahabatnya, baru saja Misca mengucap beberapa kata seperti biasanya, Ara selalu menyahut dan bercerita bayangan impian kebahagiaannya bersama seseorang yang ia cintai, seperti biasanya Misca memberhentikan kata dan tersenyum seolah ikut bahagia walau sebenarnya saat ini perasaannya sedang galau bertambah dengan sedikit kecewa.
Saat jam menunjukkan istirahat ke-dua, Misca segera menuju mushola untuk sholat dhuhur agar mushola tidaklah sangat ramai Misca cepat-cepat pergi menuju mushola..
.Sebelum sholat, Hp Misca berdering..
“Aku melihatmu saat kau berangkat sekolah, hari ini kau tampak cerah dan hari ini kau tampak cantik” sms dari kak Adit

“Tuhan ..aku merindukanMu, merindu orang tuaku, dan merindukan Muhammadku yang telah meninggikan derajad wanita sehingga sejajar dengan lelaki. Aku benar-benar rindu...” kata Misca dalam hati sebelum memulai sholatnya..

“Allahu akbar...” suara Misca meneruskan ke sujud.
Sudah lama Misca sujud namun dia tak segera bangun dari sujudnya itu, sampai pada akhirnya ada seorang kakak kelas menggoyangkan tubuh Misca, dan... “blek” tubuh Misca lemas dan tanpa nafas... serentak semua siswa-siswi di Mushola kaget dan melaporkan kejadian itu ke guru yang ada di kantor, sejenak kemudian Misca dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya tetap saja tak bernafas, mengikuti kedua orang tua yang dirindukan. Semua orang baru mengetahui bahwa Misca adalah penderita kanker darah, tapi Misca tak pernah bicara atau memberi tahu siapa pun termasuk tante yang merawatnya semenjak orang tua Misca meninggal....
Kebahagiaan dapat dirasa saat orang yang kita sayang dapat berbahagia karna kita walau secara tidak langsung, dan selama hidup Misca seringkali ia merasa semuanya penuh sandiwara,
(kejujuranlah yang membuat kita tampak mulia, bukan kebaikan dalam sandiwara di dunia)...