Sinar mentari mulai redup, Tepat di seberang perempatan itu tertata sebuah taman kecil dengan lampu mulai menyala disetiap jalan setapak. “Ini adalah tempat terakhir kesempurnaan bahagiaku yang telah lama lengser hingga menutup perasaan menyayangi orang lain” pikir seorang gadis remaja, Misca. Sekolah SMA N Garuda adalah sekolah terbersih di daerah Jombang, dan tepat di seberang jalan terdapat sebuah taman berukuran mini. Jam menunjukkan angka 15.15 WIB sekolah tersebut mulai ramai dengan para remaja berpakaian abu-abu putih, namun nampaknya matahari belum berpihak, matahari bersembunyi dibalik awan gelap dengan air yang mulai bercucur deras hingga sekolah tampak sepi dari gerombolan siswa di depan sekolah, mereka lebih memilih menetap di ruang kelas menunggu matahari keluar dari persembunyiannya terkecuali Misca, selangkah demi selangkah kaki meninggalkan gerbang sekolah dan tanpa payung di tangan atau pun mantel melekat di badan. Memang dia adalah seorang gadis kesepian, orang tuanya sudah satu tahun berpulang menghadap Yang Kuasa dan dia hanya hidup dengan seorang Tante yang berwatak keras. Seperti biasanya, jika ia mempunyai masalah sering dia duduk di bangku taman dengan hujan setetes demi setetes jatuh menerpa dengan lamunan yang selalu saja membuatnya tak bisa berkata.
“Dimana kah bahagiaku berada ?? agar aku dapat mengambilnya dan menancapkannya segera dihidupku” omong Misca
“Kau hanya memikirkan duniamu saja, namun kau tak pernah memikirkan akhiratmu. Kau tak mau dilukai, kau mengeluh pada Tuhanmu, tapi kau tak pernah merasa kau seringkali melukai Tuhanmu, namun Tuhanmu tak pernah mengeluh padamu. Bagaimana kau tega meminta jika kau tak pernah menyayangiNya” celetuk seorang anak kecil dengan membawa gitar dan kaleng kecil yang berisikan beberapa uang receh.
Misca yang sebelumnya menutup mata dan tertunduk seketika itu mengangkat kepala dan menatap anak kecil yang berbicara padanya namun anak itu tampaknya sudah pergi jauh meninggalkan Misca yang duduk di bangku taman.
Bulan mulai mengembangkan senyumnya memberikan sinar terang dengan bintang yang bertaburan, namun kejadian sore lalu masih melekat erat diingatan Misca. Bayangan bocah pembawa gitar mungkil itu membuatnya lebih menjadi pendiam namun kini hatinya mulai sedikit luluh. ”Cit..cuit...cit...cuit...” suara Beo kesayangan tante membangunkan Misca, matahari mulai meninggi memaksa Misca untuk segera bersiap sekolah.
“Kring...” suara bel masuk sekolah baru terdengar menegaskan kedisiplinan waktu untuk memulai pelajaran, hari ini adalah waktunya P.Ikhsan mengajar bahasa Jepang. Selalu saja saat pelajaran bahasa Jepang Miscalah yang seringkali menjadi asisten P.Ikhsan, dibuktikan dengan sekarang Misca harus memphotocopykan tugas dari P.Ikhsan untuk teman-teman sekelas.
Misca berjalan keluar kelas dengan membawa beberapa lembar kertas tugas, dan saat sampai di tempat photocopy sembari dia menunggu semua tugas telah terphotocopy, Misca memainkan Hpnya dengan sebuah game yang asyik menjadi temannya menunggu. Tak sengaja saat dia mulai bosan dan melamun melihat gerbang sekolah terlihatlah seorang siswa tetangga sekolah, “Kak Adit” sebutnya pelan, seketika dia melihat ke depan dengan perasaan tak karuan, memang sudah 5 bulan ini Misca sedang menyimpan rasa untuk Adit, Dia bertemu dan kenal dengan Adit saat mengikuti LDK OSIS se.Jombang. Sebuah kejadian yang tak disangka terjadi, tiba-tiba kak Adit menoleh padanya, melihatnya kemudian tersenyum lalu kak Adit menunjukkan Hpnya seolah memberi simbol untuk meminta nomor HP dan seketika Misca mencari bulpoin disakunya dan dengan cepat menuliskan nomornya disebuah kertas dan menunjukkannya ke kak Adit, setelah mencatat nomor Misca kak Adit memberikan jempol untuk Misca.
Dua minggu terjalani, Misca memang mulai dekat dengan kak Adit namun sepertinya Misca mulai berfikir bahwa Adit hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat tak lebih, sudah 5 bulan Misca menyimpan rasa namun tak pernah ia ungkapkan pada seorang pun. Minggu ini adalah hari yang membuatnya dilema..
“Apa maksud dari ini kak ? tiba-tiba kakak datang dihidupku, entah ada sesuatu yang menarikku untuk tetap ingin dekat denganmu, tapi seringkali aku mendengar berita bahwa kau memang dekat dengan banyak gadis, kau juga memberikan perhatian pada mereka hingga mereka luluh hati padamu kak, kau tak pernah rasakan apa yang aku rasa kak. Kau pernah bilang kalau kau menganggap mereka layaknya adik dan perhatianmu itu hanya untuk menyenangkan hati mereka, namun sebenarnya bagaimana ke aku ? apa sama halnya padaku ?” pikir Misca dalam hati.
Ketika Misca masuk sekolah, disela jam istirahat dia ingin cerita pada sahabatnya sekedar ingin meringankan beban pikiran yang telah lama menjadi tanda tanya. Namun semua tak seperti yang diharapkan, Sahabat karibnya pun sedang merasakan patah hati dan sebelum Misca cerita tentang masalahnya, sahabatnya telah menceritakan apa yang kini sedang terjadi dan dirasakannya, Misca mendengarkan keluhan sahabatnya dan jika ia dapat memberi solusi atau membantu ia sangatlah rela untuk membantu sahabatnya itu. Memang kini banyak teman-teman yang curhat pada Misca, dan jika Misca bisa menolong maka ia akan menolong, namun berkali-kali ia dikecewakan teman-teman yang telah dianggap layaknya saudara. Misca diam saja dan tetap baik seolah hatinya terbuat dari baja, dan berkali-kali cerita kemudian dikecewakan lagi. Lalu kepada siapa lagi Misca mengadu selain pada Tuhannya, ia jarang cerita karena percuma saja, hanya menambah duri dalam hati akibat sikap apatis dari sahabat ataupun kawan layaknya saudara.
Sudah sebulan Misca dekat dengan kak Adit, Dan sudah banyak hinaan yang terlontar untuk Misca. Kak Adit tak pernah merasakan apa yang Misca usahakan agar kak Adit tak malu dengannya hingga rela tidak makan agar Misca tidak gemuk hingga 2 hari akhirnya berat Misca berkurang 3 kg. Berusaha agar tersenyum selalu walau sering perkataan kak Adit menyakiti hati Misca namun itu selalu ditahan Misca. Misca akanlah rela jika kak Adit akhirnya bersatu dengan orang lain bukan dirinya, karna berkali-kali Misca sudah merasakan apa arti sebuah sakit dalam hati, Misca akan bahagia jika kak Adit mau jujur padanya karena kebahagiaan tidak selalu dapat dimiliki, kebahagiaan hanya untuk dirasakan. Sudah lama pula Misca selalu bersandiwara tersenyum pada sahabat atau pun kawan layaknya saudara, Misca selalu saja berpura-pura tetap tegar tanpa rasa sakit menjalar dalam hati, mereka sering curhat dan menangis namun jarang untuk mereka mau mendengar curhatan Misca. Ketika bahagia mereka terkadang bahagia dengan apa yang dirasanya tanpa peduli apa yang dirasa Misca saat itu namun Misca selalu tetap tegar. KEADAANLAH YANG MEMAKSANYA UNTUK TETAP TEGAR.
Empat bulan dia telah dekat dengan kak Adit, sahabat (Ara), dan kawan-kawan layaknya saudara. Misca telah merasakan pahit manisnya sekolah di SMA N Garuda. Saat ini tiba-tiba dia rindu pada kedua orang tuanya yang sudah menghadap Tuhan SWT, beberapa hari ini sms kak Adit membuatnya bingung, entah itu hanya sebuah lelucon untuk menghibur hati Misca atau kah memang kak Adit merasa ada rasa seperti yang dirasa Misca. Saat istirahat sekolah hari ini, Misca kembali mencurahkan apa yang dia rasa pada sahabatnya, baru saja Misca mengucap beberapa kata seperti biasanya, Ara selalu menyahut dan bercerita bayangan impian kebahagiaannya bersama seseorang yang ia cintai, seperti biasanya Misca memberhentikan kata dan tersenyum seolah ikut bahagia walau sebenarnya saat ini perasaannya sedang galau bertambah dengan sedikit kecewa.
Saat jam menunjukkan istirahat ke-dua, Misca segera menuju mushola untuk sholat dhuhur agar mushola tidaklah sangat ramai Misca cepat-cepat pergi menuju mushola..
.Sebelum sholat, Hp Misca berdering..
“Aku melihatmu saat kau berangkat sekolah, hari ini kau tampak cerah dan hari ini kau tampak cantik” sms dari kak Adit
“Tuhan ..aku merindukanMu, merindu orang tuaku, dan merindukan Muhammadku yang telah meninggikan derajad wanita sehingga sejajar dengan lelaki. Aku benar-benar rindu...” kata Misca dalam hati sebelum memulai sholatnya..
“Allahu akbar...” suara Misca meneruskan ke sujud.
Sudah lama Misca sujud namun dia tak segera bangun dari sujudnya itu, sampai pada akhirnya ada seorang kakak kelas menggoyangkan tubuh Misca, dan... “blek” tubuh Misca lemas dan tanpa nafas... serentak semua siswa-siswi di Mushola kaget dan melaporkan kejadian itu ke guru yang ada di kantor, sejenak kemudian Misca dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya tetap saja tak bernafas, mengikuti kedua orang tua yang dirindukan. Semua orang baru mengetahui bahwa Misca adalah penderita kanker darah, tapi Misca tak pernah bicara atau memberi tahu siapa pun termasuk tante yang merawatnya semenjak orang tua Misca meninggal....
Kebahagiaan dapat dirasa saat orang yang kita sayang dapat berbahagia karna kita walau secara tidak langsung, dan selama hidup Misca seringkali ia merasa semuanya penuh sandiwara,
(kejujuranlah yang membuat kita tampak mulia, bukan kebaikan dalam sandiwara di dunia)...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar